Mengenal Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan Jawa Timur

Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan

Mari kita mengenal Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan Jawa Timur. Terletak di Desa Temboro, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan Ponpes Al Fatah atau yang biasa disebut Pondok Temboro ini jadi pengmbangan ideologi Jama’ah Tabligh terbesar se Asia Tenggara.

Kurang lebih ada 22.000 santri yang berasal dari berbagai wilayah dan negara belajar di ponpes ini. Selain itu Ponpes Al Fatah Temboro ini menjadi pusat gerakan Jamaah Tabligh di Indonesia.

Apa saja informasi umum tentang Pesantren Temboro yang sudah berdampak positif bagi perkembangan Islam di Indonesia ini? Mari kita simak ulasannya.

A. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan Jawa Timur

Kyai Mahmud dan Kyai Ahmad Shodiq adalah ulama yang membidani lahirnya kepengurusan NU di Magetan dan juga pendiri Ponpes Al Fatah atau yang lebih dikenal sebagai Pondok Pesantren Temboro.

Awalnya pesantren ini seperti pesantren NU masa pergerakan yaitu penerap Thoriqoh Al Naqsyabandiyah. Mulai dari rumah para Kyai yang diwakafkan menjadi Pesantren dengan jumlah santri yang awalnya 50, hingga saat ini tercatat 22.000 santri yang belajar di Temboro.

Sebagai Pondok Pesantren yang menerapkan Thoriqoh maka Temboro membuka dirinya bagi sesama Muslim dalam hal dakwah dan Keislaman. Tahun 1980an Temboro mulai kenal dengan metode pemakmuran Masjid ala Jamaah Tablig. Inilah cuplikan singkat terkait Pesantren Temboro yang saat ini jadi salah satu super spreader lintas negara.

Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan Jawa Timur ini didirikan melalui 2 tahapan periode. 2 tahapan periode tersebut yaitu:

  1. Periode Perintis
  2. Periode Pembangunan

Lalu bagaimana periode tersebut terjadi? Berikut ulasan sejarah berdirinya Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan Jawa Timur.

1. Periode Perintis

Sejarah Pondok Pesantren Al Fatah Temboro
JABSORB.ORG

Pada saat periode perintis berlangsung, awal mula berdirinya berawal pada tanggal 1 mei 1939 dari sebuah Masjid yang didirikan kemudian diberi nama Al-Fatah. Sebelum masjid ini didirikan ada sebuah langgar yang didirikan pada tahun 1930.

Pada tahun 1953, KH.Shidiq membongkar rumah pribadinya untuk pembangunan pondok pesantren, sehingga berdirilah pondok yang terdiri dari 12 lokal/kamar yang bisa menampung kurang lebih 50 santri.

a. Kyai Mahmud Mondok

Romo Kyai Mahmud Kholid Umar, Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan
JABSORB.ORG

Dalam proses pelayanan pendidikan kepada para santri praktis tidak mencukupi apabila ditangani oleh Bapak Kyai sorang diri. Maka Kyai Shidiq memerlukan bantuan santri seniornya yang antara lain:  H.Mahmud, H.Abu Bakar, Junaidi dan Lain-lain.

Pada suatu ketika Kyai Shidiq mencita-citakan kepada salah seorang putra sulungnya yang bernama Mahmud supaya kelak menjadi Kyai.

Maka bermula pada tahun 1949, Mahmud diutus Kyai Shidiq untuk mondok belajar ngaji di Pondok Pesantren Sobontoro, kemudian di Bacem Madiun, Tremas Pacitan, lalu yang terakhir di Tebu Ireng Jombang.

Setelah menyelesaikan program belajar di Tebu Ireng, Mahmud diutus pulang oleh Ayahnya untuk membantu mengajar. Dan juga sekaligus dididik untuk menjadi calon Kyai pengganti ayahnya.

b. Wafatnya Kyai Shidiq

Pada tahun 1956, Kyai Shidiq wafat pada usia kurang lebih 62 Tahun. Kemudian perjuangannya dalam melayani santrinya di pondok diteruskan oleh putranya yaitu KH. Mahmud.

Sepeninggalan KH. Shiddiq, keadaan KH. Mahmud semakin berat bertanggung jawab terhadap kehidupan masyarakat dalam bidang mental spiritual. Kemudian KH. Mahmud segera merancang dan merencanakan program jangka pendek dan jangka panjang.

Rancangan program jangka pendek yang diuat waktu itu yaitu, membina pra santri untuk menjadi calon penerus utama yang sanggup bekerja serta beramal. Menambah sistem pendidikan selain sorogan.

Kemudian terbentuklah pengurus pondok pesantren  diantaranya:

  • Bpk.H.Abu Bakar sebagai Ketua.
  • Bpk.Mukhtar sebagai skretaris.
  • Bpk.Junaidi sebagai Bendahara dst.

Rancangan program jangka panjang diantaranya mendirikan Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Diniyah Mifahut Tholibin, Madrasah Wajib Belajar dan Madrasah-Madrasah lainnya yang sudah dicita-citakan sejak tahun1956.

2. Periode Pembangunan

Sejarah Pondok Pesantren Al Fatah Temboro Magetan

Dalam periode pembangunan ada 12 usaha yang dilaksanakan, diantaranya:

a. Mendirikan Gedung Madrasah

Atas dasar kesepakatan bersama antara pengurus Pondok Al Fatah yang telah tersusun, Pengasuh serta Wali Santri. Dengan menggunakan anggaran dana yang dipikul bersama secara gotong royong.

Bahkan ada juga dermawan yang bersedia menyumbangkan satu lokal/kamar yang berisi 3-4 kamar yang segalanya ditanggung sendiri. Sehingga pada tahun 1961 terwujudlah gedung madrasah berjumlah 13 lokal.

b. Menambah Gedung Pondok

Penambahan gedung pondok diadakan karena lokal pondok yang kapasitasnya sudah tidak mencukupi untuk menampung santri. Sehingga mendorong para pengurus untuk menambah gedung lagi.

Sehingga pada tahun 1967, Pondok Pesantren Al Fatah menambah 3 lokal, dan terus bertambah hingga sekarang 63 lokal.

c. Membuka Madrasah Tsanawiyah .

Pada tahun 1959 didirikanlah Madrasah Tsanawiyah yang dikepalai langsung oleh Bapak KH. Mahmud Kholid Umar dan wakilnya Bapak Achmad Shodik dan dibantu oleh beberapa orang pengasuh lainya .

d. Membuka PGA dan Penegriannya.

Untuk mencukupi kebutuhan Guru Agama baik swasta maupun negeri maka dibukalah PGA 4 th, pada th 1967 dengan Kepala sekolah Bapak Achmad Sidiq. Bedasarkan surat  Menteri Agama RI 21 november 1967, Nomor 143/1967 berlaku sejak tahun ajran 1968.

Kemudian menjadilah PGAN 4 th, pada tahun 1969 ditingkatkan menjadi PGAN 6 tahun hal ini berdasarkan surat Kepusan menteri Agama tanggal 5 mei 1969 Nomor 35/1969, dengan mengakat secara defnitif  sebagai Kepala Sekolah Drs.H. Mudzakir Adnan, hingga tahun 1982 dan sebagai penggantinya adalah Bapak R.A. Badawi, B.A.

Namun pada tahun 1978, PGNA 6 tahun berubah menjadi MtsN dan MAN yang masing–masing dikepalai oleh Bapak Mohdiyat Sofwan, B.A ( MtsN ) dan RA. Badawi  ( MAN ), hal ini berdasarkan keputusan mentri agama nomor 17/1978 tanggal 16 Marett 1978.

e. Perluasan Masjid Al fatah

Pada tahun 1939 Masjid Al-Fatah pertama kali didirikan, dan kemudian diperluas pada tahun 1969 dengan ukuran 50 x 30 M2. Dana yang digunakan untuk perluasan itu menghabiskan biaya Rp 2.500 000,00 ( dua juta lima ratus ribu rupiah )

f. Membangun Aula dan Gedung Tingkat Dua

Pada tahun 1970, dengan menggunakan gedung yang ada untuk MI, MTs dan PGAN sudah tidak mampu lagi untuk menampung siswa. Sehingga dibangunlah gedung tingkat 2 yang terdiri dari 12 lokal dengan menelan biaya Rp 3.500.000,- (tiga juta lima ratus ribu rupiah),

Selesai melakukan membangun gedung tingkat, kemudian pada tahun 1972 dibangunlah gedung Aula berukuran 80 x 40 M2 dengan biaya Rp 4.500.000,- ( empat juta lima ratus ribu rupiah ).

g. Mendirikan Pondok Putri

Pada tahun 1974 didirikanlah pondok putri yang terdiri dari 12 lokal dan 1 ruangan. Pembangunan pondok putri tersebut menelan biaya 3.250.000,- (tiga jutadua ratus lima puluh rupiah), namun sampai sekarang sudah diadakan perluasan hingga mencapai 21 lokal, sehingga mampu menampung 200 Santri Putri.

h. Al-Fatah Mulai Berbadan Hukum

Sebelum Pondok Pesantren Al-Fatah berdiri, sudah ada lembaga pendidikan yang diberi nama Mifttahul Tholibin yang artinya Kunci untuk Menutut Ilmu. Dalam perkembangan selanjutnya tercapailah Kemajuan-Kemajuan sehingga nama Miftahul Tholibin berpindah nama menjadi Al-Fatah yang artinya ‘Pembukaan’ karena semuanya serba permulaan untuk mencetak Kader-Kader Muslim yang Teguh Bertaqwa dan Beramal.

Untuk menanamkan kepercayaan kepada masyarakat, maka pengurus mengupayakan agar Al-Fatah berbentuk Badan Hukum dengan nama Yayasan Pendidikan Islam Al-Fatah Temboro Karangrejo Magetan. Perpindahan nama tersebut terjadi diatas Notaris RN Sinulingga S.H. Madiun disaksikan /disahkan dengan Akte Notaris Nomor 12, tanggal 17 setember 1969.

i. Mendirikan SMA dan SMP Al-Fatah.

Untuk melengkapi sistem pendidikan yang ada maka pada tahun 1978 didirikanlah SMA Al-Fatah dengan status Terdaftar pada Kanwil Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur dengan NSS  304051007005.

Karana sesuatu hal, maka sekolah tersebut hanya berjalan untuk ajaran 1978/1979 saja dengan siswa 40 anak. Kemudian 3 tahun sesudahnya yaitu tahun ajaran 1983/1984 Sekolah tersebut Dibangun Kembali dengan status dan NSS yang sama serta NDS.E.24074001.

Ppada tahun ajaran 1988/1989 Sekolah tersebut  berstatus DIAKUI dengan nomor Keputusan 011/c/Keb/1989. Bersama dengan bangunya kembali SMA Al-Fatah juga didirikan SMP Al-Fatah yan bersetatus TERDAFTAR hingga pada tahun Ajaran 1987/1988 bersetatus DIAKUI.

j Mendirikan MA dan MTs Al-Fatah.

Untuk mempermudah pengelolaan Pendidikan yang berada dibawah naungan Al-Fatah dan adanya Proyek MAN Temboro di Purwosari Magetan, dan proyek MTsN Temboro di Baluk Karangrejo Magetan, maka didirikanlah MA Al-Fatah pada tahun 1989 dengan jumlah murid 40 orang dan 18 guru.

Kemudian pada tahun 1988 didirikan pula MTs Al-fatah dengan modal murid 50 orang dan 14 guru.

Adapun mengenai perguruan tinggi sebenarnya telah didirikan FAKULTAS TARBIYAH pada tahun 1975 dengan status TERDAFTAR pada Kopertis Jawa Timur namun usia fakultas tersebut tidak dapat lama sehingga hanya sekitar tiga tahun.

k. Tahfidzul Qur’an

Disamping pengkajian kitab-kitab kuning di Pondok Pesantren Al-Fatah juga diadakan pendidikan Tahfidzul Qur’an yang dimulai pada tahun 1990.

Kegiatan ini di pondok putra pada mulanya dikoordinir atau diasuh oleh santri Al-Fatah sendiri yang bernama Khumaidillah dari Demak Purwodadi, tapi karena dia tidak lama di pondok maka diteruskan oleh santri yang bernama Faizin dari Demak.

Sampai sekarang Al -Fatah telah mencetak ratusan santri hafidz Al-Qur’an. Adapun di Pondok Putri diasuh langsung oleh Ibu Nyai K.H.Uzairon Thoifur Abdillah.

l. Usaha Perluasan Da’wah Islamiyah dan Fikir Umat

Setelah adanya Da’wah para wali yang datang dari berbagai penjuru dunia, hiduplah Agama di negeri ini maka berdirilah Masjid-Masjid Pesantren-Pesantren dan lain–lain. Dengan ini dapat kita simpulkan bahwa sumber amalan Agama adalah Da’wah.

Wajarlah ketika Umat ini sudah tidak ada Kesungguhan dalam da’wah maka merosotlah semua amalan Agama bagaikan persawahan yang sumber airnya mengecil, maka segera tampak akibatnya dalam semua Kawasan sawah itu.

Para Ulama’ mangatakan bahwa “ Lemahnya Da’wah disebabkan Lemahnya Iman dan Lemahnya Fikir Umat”. Menyadari hal ini dan dengan belajar dari sejarah para Nabi, Shohabat dan Leluhur –Leluhur kita maka kita mengadakan majlis fikir umat setiap malam ahad diikuti oleh para Santri Alumni dan Masyarakat Umum.

Setelah itu diadakan himbauan kepada yang hadir untuk menyempatkan waktu 3 hari, satu minggu atau sedapatnya untuk mengadakan Program-Program yang tujuannya antara lain :

  1. Melatih diri mengamalkan sunah-sunah Nabi saw selama 24 jam(Pegangan Pokok Bidayatul Hidayah).
  2. Mengadakan Kunjungan ke Masjid –Masjid supaya setiap Masjid ada Amalan Ibadah, Ta’lim Wa Ta’alum. Da’wah, Pelayanan Masyarakat
  3. Usaha menghidupkan sunah ziaroh kepada Ulama’ .
  4. Menghidupkan sunah Silaturrohmi kepada Umat Islam secara menyeluruh terutama yang dirasakan rawan dalam bidang Agama, sehingga timbul kasih sayang, dengan kasih sayang akan mudah menjalankan Agama.
  5. Membantu pemberian dalam mewujudkan pembangunan manusia seutuhnya (Baldatun Thaiyyibatun Warobbun Ghofuur).

Alhamdulillah berkat do’a dan dukungan segala pihak usaha ini mulai menampakan hasil yang positif, banyak masjid yang mati hidup kembali, Banyak saudara kita yang belum sholat bisa menikmati sholat berjama’ah dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!