Press "Enter" to skip to content

Macam-macam Desktop Environment di Linux

Macam-macam Desktop Environment di Linux – Apa saja desktop environment yang ada di Linux? Apa saja kekurangan dan kelebihannya? DE apa yang paling populer? Apakah ada desktop environment di Linux yang mirip dengan tampilan Windows? Temukan semua jawabannya di sini. Silakan gunakan daftar isi di bawah untuk langsung ke topik yang kalian tuju. Tks.


Linux yang erat kaitannya dengan perintah CLI, ternyata dewasa ini banyak meggunakan desktop environment (DE) sebagai grafis tatap mukanya. Hal ini, menurut kami, adalah sebuah langkah pendekatan kepada pengguna awam agar mulai migrasi dari Windows ke Linux. Utamanya bagi mereka yang masih menggunakan sistem operasi bajakan.

Dengan DE, pengguna awam bisa menggunakan Linux tanpa harus memiliki kemampuan teknis yang baik. Sebab, fungsi utama DE memang untuk memudahkan pengguna melakukan banyak hal dengan hanya klik-klik-klik.

Jadi bisa disimpulkan kalau desktop environment adalah sebuah grafis tatap muka (GUI; Graphical User Interface) pada sistem operasi Linux yang menyajikan sekumpulan ikon, toolbar, wallpaper, dan shortcut, yang memungkinkan user untuk memakai Linux dengan mouse dan keyboard seperti pada sistem operasi Windows.

Apa saja macam-macam desktop environment yang ada di Linux? Ini dia …

Macam-macam Desktop Environment di Linux

Seperti yang sudah kami bilang di atas, ada beberapa DE yang bisa kalian gunakan di Linux. Meskipun biasanya DE sudah di-bundle dengan distro yang diinstal. Maksud kami, ketika kalian menginstall salah satu distro Linux, biasanya akan langsung terinstall juga DE-nya. Nah, apa saja DE yang ada?

1. GNOME

Desktop environment yang pertama ada GNOME. Bila dibandingkan dengan semua DE yang ada, bisa dinilang GNOME adalah yang paling banyak disukai user pemula. Sebabnya, tampilan GNOME sangat menarik, modern, dan mudah dikustomisasi.

Tapi tahukah kalian kalau GNOME pada awalnya tidak disukai bahkan oleh Linus Torvalds (penemu Linux) sendiri? Alasannya karena sulit dikustomisasi sehingga cenderung menyulitkan. Namun seiring berjalannya waktu, kritikan tersebut membuat GNOME berbenah dan kini menjadi DE dengan tampilan yang paling bagus dengan kustomisasi yang beragam.

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan GNOME:

Kelebihan GNOME

  • Modern dan stylish
  • Mudah dikustomisasi
  • Transisi smooth
  • User friendly alias cocok bagi pemula

Kekurangan GNOME

  • Boros pemakaian daya
  • Memakai banyak resource seperti RAM dan GPU
  • Tidak cocok untuk laptop atau komputer dengan spesifikasi rendah karena berat

2. XFCE

Di tempat kedua ada XFCE yang merupakan singkatan dari XForms Common Environment. Desktop environment ini dikenal karena ringan dan tidak memakai banyak resource dari laptop atau PC, sehingga bisa diinstall di perangkat yang agak lawas. Oleh karena itu XFCE tidak kalah populer dengan GNOME dalam hal pendekatannya dengan pengguna pemula.

XFCE merupakan sebuah proyek yang dibangun oleh Olivier Fourdan pada tahun 1996 dan terus dikembangkan oleh komunitas sampai sekarang. Apa saja kelebihan dan kekurangan XFCE? Berikut di antaranya:

Kelebihan XFCE

  • Ringan
  • Bisa diinstall di PC atau laptop lawas
  • User friendly bagi pengguna Linux baru

Kekurangan XFCE

  • UI/UX default kurang modern
  • Aplikasi yang terinstall sedikit

3. LXDE

Berikutnya ada LXDE yang merupakan singkatan dari Lightweight X11 Desktop Environment. Seperti namanya, desktop environment ini sangat ringan sehingga bisa diinstall di komputer lawas dengan spesifikasi hardware rendah.

Namun demikian, jika sesuatu menitikberatkan pada performa, maka akan ada sesuatu lain yang dikorbankan. Dalam hal LXDE, ianya mengorbankan style.

Secara garis besar LXDE adalah Openbox yang ditempeli LX panel di dalamnya sehingga memiliki tampilan yang lebih user fiendly. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan LXDE:

Kelebihan LXDE

  • Ringan karena tidak memakan banyak resource
  • Tampilan user fiendly
  • Support hampir di semua distro Linux

Kekurangan LXDE

  • Tampilan kurang modern sehingga tidak menarik untuk sebagian orang

4. KDE

KDE atau singkatan dari Kool Desktop Environment merupakan DE yang mengambil tampilan Windows sebagai inspirasinya. Hal ini, menurut kami, agar memudahkan user yang ingin migrasi dari Windows ke Linux.

KDE memakan banyak resource hanya saja tidak seboros KDE. Nah, apa saja kelebihan dan kakurangan KDE?

Kelebihan KDE

  • Tampilan modern dan mirip Windows. Cocok untuk pengguna awal yang migrasi dari sistem operasi tersebut
  • Mudah untuk dikustomisasi
  • Memiliki banyak software yang kompatibel

Kekurangan KDE

  • Agak boros daya dan memakan banyak resource
  • Agak berat
  • Beberapa komponen cenderung sulit digunakan dan ribet

5. MATE

MATE adalah desktop environment yang menggunakan kode sumber GNOME 2 yang dikustomisasi ulang. Ada yang bilang MATE dikembangkan oleh user yang merasa kecewa dengan GNOME 3.

Meskipun bebasis GNOME 2, tetapi tim pengembang benar-benar gigih mengkustomisasi DE ini sehingga sejak kemunculannya pada tahun 2011, MATE menjadi salah satu DE yang paling populer dan banyak disukai.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan MATE:

Kelebihan MATE

  • Cenderung ringan seperti XFCE dan LXDE
  • Tampilan simple
  • Mudah dikustomisasi

Kekurangan MATE

  • Tampilan mungkin terlihat lawas mengingat GNOME 2 menjadi basis utamanya

6. Cinnamon

Cinnamon, salah satu pengembangan dari GNOME 3 merupakan desktop environment yang secara khusus dibuat untuk Linux Mint. Cinnamon dikenal sebagai DE yang dibuat mirip seperti Windows, sehingga membantu pengguna Linux pemula untuk mempelajari Linux dan mencintainya.

Cinnamon mencoba mengenalkan dirinya sebagai DE modern dengan tetap mempertahankan tampilan tradisional. Hal ini untuk meminimalisir penggunaan resource yang terlalu besar, tetapi tetap nyaman digunakan.

Berikut adalah beberapa kelebihan dan kekurangan Cinnamon:

Kelebihan Cinnamon

  • Tampilan menarik dan soft
  • Familiar untuk pengguna Linux baru
  • Sangat mudah dikustomisasi
  • Seimbang antara performa dan style

Kekurangan Cinnamon

  • Mungkin tidak cocok untuk sebagian user
  • Sulit diinstall di selain Linux Mint

7. Budgie

Budgie desktop adalah DE yang dikembangkan oleh Solus Project. Bagi yang belum tahu, Solus adalah distro Linux independen, di mana mereka memakai teknologi GNOME seperti GTK untuk mengembangkan Budgie sebagai desktop environment-nya.

Secara garis besar, Budgie adalah gabungan dari UI modern dengan tampilan tradisional. Hal ini membuatnya seperti Cinnamon yang seimbang antara performa dan juga style. Berikut adalah kelebihan dan kekurangan Budgie:

Kelebihan Budgie

  • UI modern dan tampilan yang elegan
  • Compact
  • Pengalaman pengguna yang cukup bagus

Kekurangan Budgie

  • Hanya tersedia di beberapa distro Linux saja

Akhir Kata

Demikian. Itulah macam-macam desktop environment populer yang ada di Linux. Kami tidak bisa menuliskan semuanya karena ada banyak DE yang tersedia. Kami hanya menuliskan DE yang paling banyak diulas saja.

Nah, setelah mengetahui tentang apa itu desktop environment dan macam-macamnya, sudah siapkah kalian untuk migrasi ke Linux ketimbang memakai Windows bajakan?

Be First to Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *